Aku mengenalnya saat usiaku masih tujuh belas tahun, sedang usianya sudah dua puluh lima tahun, terpaut delapan tahun.
Dia wanita yang sangat anggun, mempesona, dengan senyuman yang dapat meluluhkan hati, aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
Mendapat cintanya sungguh tak mudah, apalagi usianya yang lebih tua, waktu itu aku hanya dianggap anak abg yang sedang terkena demam cinta monyet.
Aku terus mengejarnya, kudekati dengan segala cara, untuk meyakinkannya bahwa aku sangat mencintainya.
Lima tahun aku terus memperjuangkan cintanya, dan akhirnya aku dapat menikahinya, menjadikannya pendamping hidupku, hingga sekarang.
Setelah dua puluh tahun pernikahan kami, beberapa minggu ini sifatnya mulai berubah.
Aku terkejut ketika malam ia membuka hijab, rambutnya telah dicat kuning pirang.
“Bu, rambut kamu kok dipikok?”
"Habis ubannya udah banyak banget Yah, diwarnain aja dah biar keliatan muda lagi." ia menjawab sambil merapihkan rambutnya.
"Malah kaya tante-tante girang." kata-kata itu hanya dalam batinku, tak sanggup keluar karna aku tak ingin menyakiti hatinya.
Begitu juga dengan dandanannya, bedak dan lipstiknya kini lebih tebal, hingga terlihat seperti ibu-ibu yang mau ke pesta halloween.
Dan yang membuatku sangat curiga, ia kini sangat dingin, bahkan tak lagi mau aku dekati bila malam.
Selalu saja ada alasan yang ia berikan.
“Aku capek Yah.”
“Aku ngantuk banget ini.”
“Aku lagi dapet.”
Selalu saja ada alasan darinya, dan itu membuat aku sangat curiga padanya.
Hatiku serasa sakit bila membayangkan ia sedang asik berduaan dengan lelaki lain diluar sana ketika aku sedang bekerja, ah, langsung saja kutepis pikiran buruk itu.
Pagi itu aku pamit kerja padanya, seperti biasa ia dan anak ketigaku yang masih berusia tujuh tahun, mengantarkan aku sampai depan rumah, masih kulihat senyum menawan itu, senyum yang membuatku tergila-gila padanya hingga kini.
Aku berhenti di warung kopi dekat rumahku, dari sini aku bisa melihat rumahku dari kejauhan.
Tak lama istriku keluar sendiri dengan motornya.
Aku mengikutinya dari belakang.
Ia berhenti di toko obat, yang kutahu itu adalah toko obat kuat.
"Apa yang ia beli di toko obat kuat impor itu?"
Batinku berkecambuk, memikirkan segala kemungkinan yang telah ia lakukan.
Aku mengikutinya hingga pulang kerumah.
Ia sangat terkejut ketika tau aku ada di belakangnya.
“Ayo kita masuk Bu, ada yang ayah mau tanya sama kamu!”
Nadaku sedikit keras, Sriyanti tau aku sedang marah, ia mengikutiku masuk ke dalam kamar.
“Katakan padaku apa yang kamu lakukan? kamu berubah Bu, sangat berubah! liat dandanan kamu, rambut kamu, sungguh aku sekarang ga mengenali kamu lagi! dan untuk apa kamu tadi ke toko obat kuat? biar pacar simpanan kamu itu bisa lebih muasin kamu! iya?”
Aku sangat emosi, sungguh sangat emosi, aku membayangkan istriku bermesraan dengan lelaki lain sungguh membuat aku hampir hilang kendali.
"Pantas kamu sekarang ga mau lagi aku deketin, ternyata seperti itu kelakuan kamu Bu!"
Aku menunjuk wajah Wanita yang selama ini sangat aku cintai.
"Yah, denger dulu penjelasanku! Ayah jangan nuduh ibu kaya gitu! tolong dengerin dulu penjelasan ibu."
Airmata istriku terlihat membelah bedak tebal di pipinya.
“Ini yang ibu beli di toko obat itu.”
Istriku merogoh tasnya, dan memberikan botol kecil padaku.
"Apa ini?" Aku kerutkan dahi memandangi botol itu.
"Itu pelumas, aku sudah menopause Yah, aku sudah menopause!" Sriyanti terisak.
"Aku takut kehilanganmu, aku takut tak dicintai lagi, aku takut kamu pergi meninggalkan aku, karna kekuranganku ini, aku sungguh takut kehilangan kamu Yah, aku takut..."
Kata-katanya terpotong oleh tangisannya.
Aku reflek memeluknya, mengelus kepalanya dengan lembut.
“Aku mencintaimu bu, bagaimanapun keadaanmu, pada akhirnya kita akan menjadi tua, tapi cinta ini, sayang ini tak akan termakan oleh usia, dulu aku mencintaimu, kini aku sangat mencintaimu, dan nanti kupastikan aku akan tetap mencintaimu.”
“Terima kasih Yah.”
Sriyanti memandangku dengan senyum mengebang.
Senyum yang membuatku tergila-gila padanya sampai kini.
"Kita akan kuat menjalani ini bersama Bu, Kitakan minum madu QI setiap hari madu asli bersertifikat dan bergaransi, jadi walau usia kita tua tapi tetap akan kuat kan?" Aku tersenyum.
"Aduuuh!" Tiba-tiba Sri mencubit pinggangku.
"Kamu emang sudah pesan maduQi lagi?" Tanya Sri.
"Loh kamu belum tau kalau sekarang aku jadi seller maduQi juga? kemarin aku daftar jadi seller maduQi di bang Ahmad Mustopa lewat wa https://s.id/MADUQI
Jadi kamu juga harus minum maduQi ya biar kuat."
"Kuat apa?" Sri bertanya manja.
Tamat.