KURAWAT IBUKU

Kategori: Copywriting by Ahmad Mustopa | Penulis: Administrator | 23 Dec 2025

KURAWAT IBUKU

“Tidak Azzam, ibu lebih baik ikut Mirna saja.”

“Tapi bu?”

“Dengar Azzam, kalau ibu ikut kamu, maka ibu akan merepotkan Aida istrimu, ibu tak mau itu, biarkan ibu ikut Mirna nak, biarkan ibu dirawat oleh anak sendiri.”

Azzam mengela nafas dalam-dalam, ia sangat mengerti apa yang ibunya inginkan, walau hatinya terasa berat namun ia tak ingin membantah ibunya.

“Iya Mas, biar ibu ikut aku aja, aku akan berjanji merawat ibu sebaik mungkin, dan aku yakin Mas Damar juga akan mengijinkan ibu tinggal bersama.”

Mirna membelai rambut putih wanita tua di sampingnya penuh kasih sayang.

"Kalau memang itu keputusan ibu, Azzam ga bisa memaksa ibu, Azzam hanya ingin ibu senang di manapun ibu tinggal." 

                             

Waktu berlalu hampir setahun sudah  Rohani tinggal bersama Mirna.

Awalnya tak ada kendala, namun belakangan ketika Rohani mulai kesulitan untuk berjalan, konflik mulai terjadi.

"Ampun dah, pulang kerja capek, sampai rumah disuguhin bau kaya gini." 

Damar menutup hidungnya ketika melewati kamar mertuanya.

“Ibu kesulitan jalan ke kamar mandi, jadi dia buang air di kamar, nanti pagi aku beresin kok Mas.”

"Terus aku semalaman harus cium aroma kaya gini!" 

“Ya udah aku beeresin sekarang Mas.”

Baru Mirna berjalan dua langkah menuju kamar ibunya, Damar kembali bergumam. 

“Suami pulang kerja, jangankan kopi atau teh, air putih aja ga dikasih! sia-sia rasanya nyari uang banting-tulang seharian!”

Mirna hentikan langkah, lalu berbalik menuju dapur untuk membuatkan kopi suaminya.

                            

“Mir! Mirna!”

Teriak Rohani tepat jam sebelas malam.

“Maaf Mas, itu suara ibu.”

Mirna lepaskan pelukan suaminya lalu beranjak dari ranjang.

"Kamu sudah ngurusin dia seharian, aku cuma minta beberapa jam saja bersama istriku, rasanya kok jadi sulit sekali sih." 

Damar terlihat kesal.

Mirna tak pedulikan perkataan suaminya, ia cepat melangkah menuju kamar ibunya.

“Mas ibu ... Mas ibu panas sekali, kita harus bawa ke dokter sekarang!”

Mirna goyangkan tubuh suaminya.

“Ampun ya Tuhan, aku mau istirahatpun sulit ya? sudahlah besok pagi saja sama kamu, kenapa sih ngerepotin banget! Aku sama ibuku sendiri aja belum tentu mau direpotin gini!”

"Mas tolong mas, tolong!" Mirna terisak.

“Bodolah! kamu telpon saja kakakmu itu kalau mau kerumah sakit sekarang juga, aku mau istirahat, capek!”

Mirnapun menelpon Azzam dengan terisak.

"Sudah jangan nangis, aku kesana sekarang." 

"Tapi Mas jangan marah sama Mas Damar ya, aku kesal sama dia, tapi aku tak mau berpisah sama dia Mas, apalagi kandunganku sudah hampir tujuh bulan, jadi bingung Mas, aku takut." 

Tangis Mirna makin pecah.

“Sudah, aku tau yang harus aku lakukan, kamu tenang saja.”

                          

Di Rumah sakit Azzam mengelus kaki ibunya dengan bibir tersenyum.

“Nanti keluar dari rumah sakit ibu ikut Azzam ya?”

“Tapi Nak?”

"Bu, tolong dengar Azzam dulu, ibu tidak bisa ikut Mirna karna Mirna sekarang sudah ikut Damar, Mirna istri Damar, semua keputusan Mirna harus dengan persetujuan Damar,

Kalau Mirna merawat ibu di rumahnya, sedang Damar tidak Rido, tidak ikhlas, maka itu akan menimbulkan masalah dalam rumah tangga Mirna, kasihan Mirna bu, kalau sampai rusak rumah tangganya, ibu tenang saja, masih ada Azzam, insyaAllah Azzam akan merawat ibu."

Rohani teteskan airmata, ia sangat mencintai anak perempuannya Mirna dan ingin dirawat olehnya sampai ajal menjelang, namun perkataan Azzam adalah kebeenaran.

Setelah pulang dari Rumah sakit Azzam memboyong ibunya ke rumahnya.

"Aida tolong rawat ibuku, namun bila kamu keberatan, aku akan mempekerjakan perawat agar ibu tak terlalu merepotkanmu." 

“Ya Allah bang, masa Ida kerepotan ngurus ibu sih? dulu aja abang waktu ngurus Almarhum ibu Ida, abang sayang banget sama Ibu, masa sekarang Ida mau nyia-nyiain ibu abang sih, Naujubilah deh.”

"Ida, setiap orangtua entah itu mertua atau orangtua kita sendiri,  adalah tiket VIP kita menuju Syurga, jadi orang seperti apa yang menolak tiket itu?" 

Aida mengangguk setuju dengan perkataan suaminya.

“Bang, Ida punya usul bagaimana kalau ibu kita kasih maduQi setiap hari, maduQi itu bagus loh bang untuk metabolisme tubuh, siapa tau kesehatan ibu bisa terbantu dengan mengkonsumsi maduQi yang asli madu rimba bersertifikat resmi dan halal.”

“Kok kamu tau banyak tentang MaduQi sih?”

“Iya bang, soalnya Ida sekarang lagi beelajar ju4lan MaduQi, sehatnya dapet untungnya juga dapet.”

“Alhamdulillah, pinter istri Abang, eh kalau mau ikutan ju4lan MaduQi bagaimana?”

“Gampang bang, bisa langsung hubungi Marketing atau Distributor/Agen/Reseller terdekat mumpung ada Promo Discount dan Gratis Ongkir. Pokoknya Abang ga kecewa deh, soalnya MaduQi terjamin dan banyak untungnya.”

"Siap nanti Abang ikut deh, tapi sekarang tolong kamu belikan abang ikan asin cucut di Bang Ahmad Mustopa ya, sekilo aja, harganya cuma empat puluh ribu kok, abang mau makan ikan asin cucut sama sayur asem, pasti nikmat deh.

"Iya bang." Ida mengangguk lalu pergi menuruti permintaan suaminya. 

TAMAT.

#Salam1HoBee

#CerpenMaduQi

#AhmadMustopa

#Bee #Honey

#Lebah #Madu

#MaduQi

😍🌳 🐝🐝🍯🍯🍯🐝🐝🌳😍

 

Sumber : https://www.facebook.com/100001427713144/posts/7273363209387864/?mibextid=rS40aB7S9Ucbxw6v