"Mas, inikan hari Minggu, kok masih kerja aja sih?"
Minah duduk di samping suaminya.
"Kamu aneh dek, dulu waktu aku nganggur, kamu ngomel tiap hari nyuruh aku kerja, sekarang aku udah kerja malah ngomel nyuruh ga kerja, bingung aku." Faisal tersenyum.
"Jujur aja Mas, aku mah curiga sama kamu, kerja kok ga ada berentinya, pergi pagi pulang malem, bahkan hari Minggu masih juga kerja, jangan-jangan kamu punya pos kedua ya?" Minah lirik Faisal.
"Dek, kamu harusnya kaya istrinya Bang Rojak atau istrinya Bang Bidin tuh."
"Lah emang kenapa mereka?"
"Kamu lihat tuh istrinya bang Rojak, ga pernah cemburu walau tiap pagi suaminya dirubungin sama perempuan, dan istrinya bang Bidin ga pernah marah tuh walau tiap hari suaminya boncengin perempuan lain."
"Atuh iya lah Mas! Bang Rojak kan tukang sayur dan Bang Bidin emang tukang Ojek, kalo istrinya cemburu mah kelewatan namanya!" Minah cemberut.
"Ya udah, aku berangkat kerja dulu ya dek." Faisal cium kening Minah.
Berlahan Minah kendarai motornya untuk membuntuti Faisal dari belakang, ia memang sudah merencanakan untuk membuntuti suaminya, untuk menghilangkan rasa curiga dan cemburu di hatinya.
"Dulu miskin bareng, bahkan sampe makan cuma sekali, dan aku ga nuntut apa-apa, sekarang udah sedikit maju malah mau berulah, dasar laki-laki!" Batin Minah dengan tatapan tak lepas dari motor Faisal di depannya.
Motor Faisal masuk ke Pom Bensin, Minah mengikutinya.
Fasial masuk ke dalam WC umum yang ada di Pom Bensin, Minah menunggu dari kejauhan.
Lama di tunggu suaminya tak kunjung keluar dari sana, hingga Minah memutuskan untuk menghampiri WC umum itu.
Melihat WC umum ternyata kosong, Minah kebingungan.
"Kemana dia ya? perasaan belom keluar deh, apa gua ga liat tadi pas keluar? tapi itu motornya masih ada di depan WC?" Minah kebingungan, lalu ia menghampiri penjaga WC untuk bertanya.
"Bang, maaf tadi laki-laki yang bawa motor itu masuk ke sini, terus kok ga ada ya?"
"Oh, itu Pak Faisal, dia tiap hari emang nitip motor di sini Bu." Penjaga WC tersenyum.
"Loh, terus orangnya kemana bang?"
"Itu barusan keluar, yang pakai kostum Teletubbies itu."
Tercekat Minah mendengar perkataan penjaga WC itu.
Jadi Faisal sudah lebih tiga bulan setiap pagi ke Pom bensin untuk menitipkan motor dan ia salin pakaian dengan kostum Teletubbies yang sudah ia titipkan di sana.
Lalu pulang malam sebelum pom bensin tutup untuk salin pakaian lagi, karna sudah hampir empat bulan Faisal telah di PHK dari pekerjaannya, itu yang di ceritakan oleh penjaga WC pada Minah.
"Asalammualaikum." Faisal ketuk pintu rumahnya.
"Walaikumsalam." Minah bukakan pintu, bibirnya tersenyum walau matanya terlihat sembab.
"Eh mata kamu kenapa? Kamu habis nangis ya?" Faisal terlihat heran.
"Iya mas, aku menyesal sudah suuzon sama kamu." Minah cium tangan suaminya.
"Suuzon? Suuzon apa?"
"Aku pikir kamu punya istri muda, aku khawatir sekali mas." Minah lalu menuju dapur ia membuatkan kopi untuk suaminya.
"Aku lelaki normal, yang mungkin bisa saja jatuh cinta lagi pada wanita lain." Faisal pandangi istrinya yang sedang menaruh kopi di meja.
"Namun setiap aku dapat godaan itu, aku selalu teringat dirimu, wanita yang selalu menemaniku walau dalam keadaan yang sangat sulit, bahkan pernah tak makan seharian namun kamu tetap bertahan dan tak meminta perpisahan, kamu adalah wanita yang paling luar biasa menurutku."
Minah diam, airmatanya kembali menetes, ada rasa sesal telah mencurigai suaminya yang telah berjuang demi rumah tangganya.
Dan Minahpun tak menceritakan bahwa ia tau apa pekerjaan suaminya sekarang, ia ingin ini tetap berjalan seperti apa keinginan suaminya.
"Jih kok nangis sih? Ayo senyum dong, suami pulang kerja kok kamu malah sedih sih?" Faisal usap airmata Minah.
"Dek, cukup keringatku yang keluar, jangan airmatamu, jangan dek, jangan pernah." Perkataan Faisal malah membuat Minah semakin menangis.
"Udah sayang, udah dong, kok malah kata sinetron sih? Aku u mau makan, sudah laper ini." Faisal tersenyum.
"Ia Mas, hayuk makan, kebetulan tadi aku beli ikan asin cucut dari bang Ahmad Mustopa yang sekilonya empat puluh ribu, aku juga bikin sayur asem dan nyambel."
"Wah makanan kesukaan aku itu, terimakasih sayang." Faisal tersenyum.
"Aku yang harus berterimakasih Mas, terimakasih sudah menjadi Imam yang baik dalam hidupku, eh iya ini aku belikan madu QI di https://s.id/MADUQI
Madu QI itu madu asli bersertifikat dan bergaransi, bagus untuk kamu yang selalu berjuang untuk keluarga." Ucap Minah sambil berikan botol madu QI pada suaminya.
Tamat.
Sumber : FB Ahmad Mustopa
Salam1HoBee
MaduQi Madu Murni Garansi Rimbawan