Bapakku hanyalah pedagang kasur keliling.
Bapak mengambil kasur dari Kakek yang memproduksi kasur isi.
Untungnya lumayan, kalau laku setiap hari, namun kasur bukanlah kebutuhan pokok, jadi bisa laku tiga pasang seminggu saja sudah luar biasa.
Bapak waktu itu belum punya sepeda, jadi Bapak keliling jualan kasur dengan dipikul, dua pasang kasur dipikul menggunakan kayu.
Saat sore aku sering duduk di depan rumah menanti Bapak pulang, dan berharap ia pulang tak membawa kembali kasurnya.
Aku akan berlari memeluknya jika ia pulang tanpa dagangannya, dan aku akan diajak ke warung untuk jajan.
Namun bila ia pulang masih membawa kasurnya, aku akan masuk kamar dan menangis.
Ya, walau usiaku waktu itu baru lima tahun, namun sudah merasakan kasihan pada Bapak yang seharian keliling dengan beban di pundaknya tanpa hasil.
Hari ini ke rumah Arya, mumpung dia libur sekolah.
Sesampainya di rumah mantan istri, Arya langsung memeluk ku.
"Abaaaaa! Arya kangen Aba! Arya kangen Aba!" Anak tujuh tahun itu memelukku erat, padahal hampir setiap hari kami selalu video call.
Tiba-tiba serangan jantung datang, aku segera melepas pelukan Arya, lalu duduk, mengambil obat Isosorbide, dan menaruhnya di bawah lidah.
Melihat itu Arya memperhatikan ku dengan wajah berubah cemas.
Arya sudah tau penyakitku sejak aku ajak ke Jakarta, karna beberapakali aku harus minum Isosorbide di perjalanan.
"Aba masih sakit ya? tuh kan Aba mah kaya gitu! Aba pasti begadang terus ya? Aba ga boleh kaya gitu ge!" Arya memijat bagian dada yang aku pegang, karna memang terasa sangat sakit.
"Aba kerja buat kamu sayang, Kitakan mau jalan-jalan ke Dufan nanti ulang tahun kamu, kalau Aba ga kerja bagaimana kita bisa ke sana?" Aku elus kepala anak bungsuku itu.
"Arya ga mau ke Dufan! Arya ga mau! Arya mau Aba aja!" Arya memelukku dengan airmata berlinang.
Aku jadi teringat diriku ketika melihat Bapak pulang dagang ga laku.
Apakah ini yang dirasakan Bapak ketika melihatku menangis di kamar.
Suatu rasa yang sangat unik, rasa yang membanggakan karna merasa diri dibutuhkan oleh orang yang kita cintai.
"Kenapa sih? dateng-dateng udah nangisin anak!" Mama Arya keluar dari dalam rumah.
"Arya tenang aja, Aba mah kuat kok, Aba kan sekarang minum madu asli tiap hari, eh ini Aba bawain madu QI untuk kamu." Aku berikan sebotol Madu QI yang memang aku persiapkan untuk Arya.
"Eh jangan sembarangan madu apa itu? anak kamu tuh gampang sakit kalo makan sembarangan!" Mamanya Arya mengambil madu QI pemberian dariku.
"Itu madu QI Bu, madu asli bersertifikat dan bergaransi, itu madu bagus, ga kaleng-kaleng loh." Terangku.
"Ah buktinya kamu masih sakit minum madu ini!"
"Bu itu madu, bukan air ajaib yang bisa nyembuhin orang sakit sekali minum, harus rutin dan sabar ga langsung sembuh, bertahap Bu, sekarang Alhamdulillah nih tangan sama kaki udah ga sering kesemutan lagi, waktu belum minum madu ini Aba sering banget kesemutan atau baal di tangan dan kaki, coba deh kamu cek tuh madu QI di https://S.id/CompanyProfilePTMWHMADUQi2024-2028
Biar lebih tau manfaatnya madu asli."
"Oooooh, belinya di mana madu QI ini?"
"Kalau kamu mau pesan bisa langsung ke https://s.id/MaduQi
Cocok tuh buat kamu, biar ga ngomel melulu."
"Lah emang hobi ngomel bisa hilang kalo minum madu ya Ba?" Tanya Arya.
"Iya dong Ya, madu kan manis tuh, terus kalau diminum mulutnya ikut manis kan? nah orang yang mulutnya manis tuh biasanya kalo ngomong manis-manis Ya." terangku.
"Emang Neng nyaleg apa? Sorry yeeee, Sorry yeeeee!"
Kami pun tertawa bersama.
Salam sehat selalu.
Sumber : FB Ahmad Mustopa