Agus coba bangun dari ranjang, kepalanya terasa sangat sakit.
Sudah hampir sebulan ini Agus hanya terbaring di ranjang karena sakit paru-paru yang ia derita.
"Eh kamu udah bangun pak?" Sri turunkan tampah yang berisikan kue dagangannya, lalu berlahan lepaskan kain penggendong untuk menurunkan anaknya Arif dari gendongan.
"Kamu bawa Arif ikut jualan? kan di luar hujan Bu!" Agus peluk Arif anaknya yang baru berusia dua tahun itu.
"Mau gimana lagi pak, kamu sakit begitu, kalau ditinggal di rumah malah aku khawatir." Sri menjelaskan.
Sri menghitung uang hasil dari jualan kue hari ini.
"Hari ini sepi, mungkin karena hujan." Mata Sri memandang kue yang masih terlihat banyak di dalam tampah.
"Besok kredit motor kamu udah jatuh tempo, padahal bulan kemarin juga belum bayar, mungkin sebentar lagi leasing datang untuk mengambil motor itu." Sri bergumam.
"Tapi kalau motor itu sampai diambil leasing, kamu ga bisa ngojek lagi Pak." Sri terlihat hela nafas.
"Semua ini gara-gara aku sakit, kamu dan Arif jadi korbannya." Agus usap wajahnya.
Tengah malam Agus bangun dari tidurnya, berlahan ia keluar kamar.
Agus selipkan Golok di balik jaketnya, pikirannya telah bulat untuk mencari uang malam ini.
Pelan-pelan Agus buka pintu rumahnya, lalu ia coba mendorong motornya keluar rumah.
"Mau kemana kamu pak?" Tanya Sri yang tiba-tiba berdiri di depan pintu kamar.
"Hmmm, aku... aku anu, aku mau cari uang bu." Agus gelagapan.
"Apa itu di balik jaket kamu?" Sri menunjuk gagang golok yang menyembul dari depan jaket ojek online Agus yang resletingnya belum ditarik ke atas.
"Kamu cari uang di mana dengan membawa golok malam-malam? Cari uang dimana pak?" Sri menghampiri Agus, terlihat sudut matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku... Aku... Aku tak tahan dengan keadaan ini Bu! Aku tak tahan melihat kamu jualan kue dengan menggendong Arif, kepanasan! Kehujanan! Suami macam apa aku! Bapak macam apa aku! Ya, aku mau ngerampok dengan Golok ini, andai berhasil, aku bisa membuatmu berhenti dagang, andai gagal, aku tak akan melihat lagi apa yang kini aku lihat dan menyiksa hatiku!" Agus tertunduk.
"Tega sekali kau pak! Benar-benar tega! Kau berencana untuk meninggalkan aku bersama Arif? kau berencana memberi aku gelar Janda dan gelar Yatim pada Arif? itu kah yang kau mau? Apa tak kau bayangkan bagai mana keadaanku setelah nanti aku kau tinggalkan? Apa itu yang aku mau? Apa itu yang Arif inginkan? Apa kami akan bahagia selelah kau mati sebagai seorang Perampok!?" Sri menangis sesenggukan.
"Bunuhlah kami dulu, sebelum kamu menyakiti orang lain atau dirimu sendiri!" Ucap Sri dalam tangisnya.
Agus mendekati Istrinya berlahan, tangannya mengusap rambut Wanita yang ia cintai itu.
"Apa yang harus aku lakukan Bu? Apa? Aku belum bisa bekerja, karena penyakit ini selalu kambuh dan kambuh lagi, aku bingung Bu, aku merasa tak berguna hidup seperti ini." Agus gemetar menahan air matanya.
"Bersabar lah pak, bersabar, yakinlah ini hanya ujian, jangan membuat ujian ini menjadi Azab karena ketidak sabaran mu, aku ga mau kehilangan kamu pak, aku relakan pengorbanan ini, karena aku mencintaimu, aku mohon jangan sia-sia kan pengorbananku dan Arif." Sri memeluk suaminya.
"Astaghfirullahaladzim... Maafkan aku Bu, maafkan aku... aku khilaf." Ucap Agus dalam.
"Kita akan lalui ini bersama Pak, jangan pernah takut akan rejeki dari Allah, kita yakinkan hati kita untuk tetap mencari rejeki yang halal, besok aku akan jualan ikan asin cucut, aku beli sama bang Ahmad Mustopa sekilonya empat puluh ribu dan kita jual lagi keliling di komplek ini, semoga itu bisa menjadi rejeki yang halal dan barokah, asa itu selalu ada Pak, asa itu selalu ada, kita hanya perlu berusaha, berdoa dan tawakal."
"Aamiin ya rabbal alaamiin, terimakasih Bu, terimakasih."
Agus peluk pendamping hidupnya itu dengan airmata menetes di pipinya.
"Oh iya Pak, aku sudah pesan Madu QI di https://s.id/MaduQi
Dua atau tiga hari lagi madunya datang, mudah-mudahan penyakitmu bisa membaik ya Pak."
"Madu QI?"
"Iya Pak, aku baca di https://S.id/CompanyProfilePTMWHMADUQi2024-2028
Kalau Madu asli itu bagus untuk stamina dan bisa juga untuk pemulihan tubuh yang sakit, dan madu QI itu madu asli bersertifikat dan bergaransi, jadi aku pesan supaya kamu bisa sehat lagi."
"Pasti itu mahal."
"Ga ada kata mahal untuk kesehatan orang yang aku cintai Pak, selagi masih bisa ku beli, pasti akan ku usahakan, karna sehatmu adalah juga anugrah untuk aku dan Arif."
Sri tersenyum memandang suaminya.
Tamat.
Sumber : FB Ahmad Mustopa
Salam1HoBee